Berpuasa Bareng Ahmadiyah (2)
Dari salat zuhur hingga membaca Alquran

Imam masjid Ahmadiyah sedang salat rawatib sebelum melaksanakan salat zuhur di Masjid Al-Hidayah, Kebayoran Lama, Jakarta Selatanb, Senin (23/7). (merdeka.com/Islahuddin)
Dari luar pelataran Masjid Al-Hidayah, suara azan itu terdengar sayup-sayup. Namun, sekitar enam pemuda datang satu-satu dengan motor. Mereka berpakaian rapi - mengenakan kemeja dan celana kain atau denim - seraya membawa tas punggung.
Masjid itu terdiri dari dua ruang utama. Lantai dasar berisi tempat tinggal takmir, dapur, dan beberapa ruang untuk menjamu tamu. Naik ke atas, ruang salat seluas 60 meter persegi dan berbentuk persegi panjang buat laki-laki, dilengkapi tempat wudu dan toilet. Lantai tiga untuk jamaah perempuan.
Jamaah datang langsung naik ke lantai dua. Setelah berwudu, sebagian salat rawatib. Sisanya ngobrol dan bertegur sapa di beranda masjid. Yang lain duduk menunggu iqamah.
Gambaran dalam masjid milik komunitas Ahmadiyah ini sama dengan masjid-majid Sunni lainnya. Di bagian mihrab, tergelar sajadah buat imam. Di sebelah kirinya berdiri mimbar dari kayu dan berhiaskan ukiran kaligrafi kalimat syahadat. Tulisan Allah terpatri di dinding sebelah kanan dan lafaz Muhammad di sisi kiri.
Seperempat jam selepas azan, muazin melantunkan iqamah, tanda salat segera dimulai. Jamaah salat zuhur Senin lalu itu 15 orang, sekitar setengah dari isi satu barisan.
Salatnya kaum Ahmadiyah tidak ganjil. Mereka salat zuhur empat rakaat lengkap dengan rukun versi kalangan Sunni. Mulai dari takbir, iktidal, rukuk, sujud, duduk di antara dua sujud, tahiyat, hingga salam. Seusai salat dan berdoa, beberapa jamaah melaksanakan salat rawatib dua rakaat. Sebagian lagi langsung pulang. sekitar enam orang memilih bertahan dan tidur-tiduran di atas karpet tebal berwarna coklat kalem.
-