Running teks ini berisi tentang nasehat, petuah, kata mutiara, doa, hadist, cuplikan buku/kitab, motto, dll yang sifatnya ringan dan memotivasi diri. |
"Sekali-kali tidak akan kamu capai kebaikan yang sempurna, sebelum kamu menafkahkan sebagian dari apa yang kamu cintai" (Ali Imran:93). | kutipan buku Bai'at hal 89 |
Dalam hal apapun, Hudhur (aba) mengatakan beliau ingin menguraikan topik syukur kepada Allah Ta’ala dalam menghadapi (menyikapi) keberhasilan seperti yang telah diberikan kepada Jemaat. Setiap Ahmadi Muslim harus sangat bersyukur kepada Allah Ta’ala karena Dia telah memungkinkannya (memampukannya, memberinya taufik) untuk berpartisipasi dalam Jalsah Salana, yang merupakan sebuah acara (peristiwa) yang penuh keberkatan dan menguntungkan. Namun, tujuan sebenarnya dari Jalsah Salana adalah untuk membawa transformasi (perubahan) murni dalam diri sendiri, sehingga transformasi ini tidak tetap sementara tapi harus menjadi permanen (seterusnya), dan ini dengan menerapkan usaha yang terus menerus dalam hidup kita.
Hudhur (aba) mengingatkan kita bahwa sebagai orang percaya (beriman) menggali lebih dalam topik syukur kepada Allah, ia menjadi penerima berkat-berkat yang lebih besar dari Allah Ta’ala. Allah Ta’ala, Yang Maha Benar untuk Firman-Nya, menjanjikan kepada hamba-Nya yang benar.
Jalsah adalah sumber dari diterimanya begitu banyak berkat bagi kehidupan para Muslim Ahmadi, karena merupakah sarana yang diadakan bagi orang banyak semata mata untuk berkumpul dalam keperluan keagamaan, dimana para individu dapat mengingat Allah, dan juga dilakukan untuk mendapatkan keridhoan-Nya. Semua alasan ini memang sesungguhnya menjadi sumber keberkatan dari Allah Ta’ala. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam juga pernah bersabda bahwa para peserta dari acara acara dan perkumpulan seperti ini – yang mana dilaksanakan untuk mendapatkan kedekatan dengan Allah Ta’ala – adalah merupakan pewaris dari ridho Allah Ta’ala yang akan membawa mereka menuju surga. Nabi Muhammad (saw) bersabda: “Berusaha keraslah untuk berjalan di dalam kebun-kebun surga”. Saat para sahabat meminta beliau untuk menjelaskan hal ini, Hadhrat Muhammad saw mengatakan bahwa acara-acara perkumpulan yang diadakan untuk mengingat Allah sejatinya adalah merupakan kebun kebun surga yang dimaksud.
Beliau (aba) memulai khotbah dengan mengutip penjelasan dari tulisan-tulisan Hadhrat Masih Mau’ud (Imam Mahdi) ‘alaihis salaam (salam sejahtera atas beliau), sebagai berikut: “Sebagaimana orang bekerja keras untuk urusan duniawi mereka, maka begitu pulalah hendaknya di jalan Allah [dalam urusan kerohanian].’ Sebagaimana pepatah dalam Bahasa Punjabi: “Barangsiapa yang meminta sesuatu, berlakulah maut untuk itu. Berjuanglah mati-matian untuk itu,’ Pengertiannya adalah merupakan suatu penderitaan orang yang berdoa dan bahwa memanjatkan doa-doa itu merupakan satu corak maut [laksana kematian]. Orang yang hanya menelan setetes air, namun ia mengatakan telah hilang dahaga hausnya, berarti ia berdusta. Sebab, kehausannya itu
barulah terhilangkan apabila ia sudah meminum segelas besar air. Jadi, doa-doa yang dipanjatkan dengan segenap usaha dan nestapa sehingga jiwa pun mencair dan mengalir menuju istana Ilahi [mampu mengguncang Arasy, tahta Ilahi], itulah doa yang benar dan adalah sunatullah (kebiasaan Allah), tatkala doa-doa seperti itu dipanjatkan maka Dia mengabulkannya, atau meresponsnya [menjawabnya] dengan beberapa cara yang lain.” [Malfuzat, vol. IV, p. 340]
Page 1 of 4